Home Data & Statistic Disease Klamidia, penyakit kelamin yang merusak mata

Who's Online

We have 238 guests online
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow


Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
BookmarkAddict.com

Klamidia, penyakit kelamin yang merusak mata

PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by dr. Suryaningsih   
Tuesday, 23 September 2008 11:45
penyakit kelamin klamidia

Walaupun AIDS merupakan jenis penyakit kelamin yang paling ditakuti di dunia. Namun, dalam jumlah penderita ia kalah dengan klamidia. Di antara jenis penyakit kelamin yang lain, klamidia adalah yang paling banyak diidap. Meski demikian kehadirannya jarang disadari. Klamidia merupakan jenis penyakit kelamin menular akibat hubungan seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Penularannya bisa melalui hubungan seksual vagina, anal, atau oral.

Selain itu penyakit kelamin klamidia ini bisa diturunkan dari ibu pada anaknya dalam proses kelahiran. Semua orang yang telah aktif melakukan hubungan seksual berpotensi terserang penyakit kelamin  ini. Semakin banyak pasangannya, semakin besar risiko terkena infeksi. Diperkirakan setiap tahun terjadi 50 juta kasus klamidia di dunia. Di Amerika Serikat pada 1995 penderita klamidia telah mencapai tiga juta orang. Sebagian besar berusia 15 hingga 24 tahun. Diperkirakan dari tahun ke tahun jumlahnya semakin bertambah. Penelitian metaanalisis pada 2005 melaporkan bahwa prevalensi infeksi klamidia berkisar antara 3,3% hingga 21,5%.

Adalah remaja putri yang telah aktif berhubungan seksual yang paling berisiko terserang jenis penyakit kelamin ini. Organ servik yang belum matang membuat mereka lebih rawan terinfeksi. Namun, pria penyuka pria alias gay juga tak bisa terhindar dari infeksi ini. Sebab, klamidia tidak hanya ditularkan melalui seks biasa, namun juga lewat seks oral atau anal. Penyakit “Tidur” Meski paling banyak diidap, tak banyak penderita yang menyadari bahwa sesungguhnya ia telah terinfeksi bakteri Chlamydia trachomatis. Ketiadaan gejala yang khas dari penyakit kelamin klamidia ini membuat penderita tak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia atau WHO, sebanyak 75 persen wanita dan 50 pria yang men-derita klamidia tidak merasakan gejala penyakit kelamin ini.

Kalaupun ada, gejala baru dirasakan 1 hingga 3 minggu setelah terinfeksi. Pada wanita bakteri awalnya menyerang serviks dan uretra (saluran kencing). Gejala yang muncul tidak khas, berupa produksi cairan vagina yang berlebih seperti keputihan serta rasa terbakar saat akan buang air kecil. Jika infeksi telah menyebar dari serviks ke tuba falopi (saluran telur), akan muncul gejala berupa keluarnya bercak-bercak darah di luar masa menstruasi, nyeri perut bagian bawah, nyeri pinggul bagian bawah, mual, demam, dan sakit saat berhubungan seksual.

penyakit kelamin klamidia

Namun, tak banyak yang bisa merasakan gejala itu. Ketiadaan gejala dari penyakit kelamin klamidia ini yang khas membuat penanganan penyakit ini menjadi lambat. Padahal jika penyakit kelamin klamidia ini tak segera diobati infeksi dapat menyebar ke uterus hingga saluran telur dan menyebabkan pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang pelvis. Dan ini terjadi pada lebih dari 40 persen wanita penderita penyakit kelamin klamidia yang tidak diobati. PID dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saluran telur dan jaringan di sekitarnya.

Kerusakan inilah yang memicu timbulnya rasa sakit kronis pada pelvis (panggul/pinggul), kemandulan, dan kemungkinan mengandung di luar kandungan. Selain itu wanita yang telah terinfeksi penyakit kelamin klamidia lima kali lipat lebih berisiko terserang HIV. Bila infeksi diderita oleh ibu hamil, bayi dapat tertulari sehingga menyebabkan pneumonia, kerusakan pada mata atau bayi lahir prematur. Selain itu risiko hamil di luar kandungan juga sangat tinggi. Infeksi juga bisa terjadi pada rektum jika penderita melakukan seks anal.

Infeksi ini akan menimbulkan rasa sakit pada rektum serta pendarahan. Selain itu klamidia sebagai jenis penyakit kelamin juga bisa terjadi di tenggorokan jika seseorang melakukan seks oral dengan orang yang telah terinfeksi. Pada kasus tertentu infeksi penyakit kelamin klamidia juga bisa menimbulkan radang sendi yang disertai munculnya lesi dan peradangan pada mata dan uretra biasa disebut dengan sindrom Reiter.

Jika si penderita mengandung, besar kemungkinan ia akan menjalani persalinan prematur dan si bayi berisiko menderita infeksi klamidia pada mata dan saluran pernafasan. Sebagaimana pada wanita, hanya separo pria penderita penyakit kelamin klamidia yang merasakan adanya gejala. Gejala yang muncul pun tidak khas, berupa rasa nyeri saat buang air seni dan pembengkakan prostat.

Pada tahap berikutnya gejala yang muncul berupa keluarnya cairan berwarna kuning kehijau-hijauan dari penis (umumnya pagi hari); tertutupnya ujung penis oleh ”pus” atau ”duh” (nanah) yang mengering; nyeri saat kencing; dan meningkatnya frekuensi kencing. Namun berbeda dari wanita, pria jarang mengalami komplikasi akibat infeksi bakteri klamidia. Namun jika terjadi komplikasi, infeksi bisa menyebar ke saluran sperma (epididymis) dan menyebabkan rasa sakit, demam, hingga kemandulan.

Mudah Disembuhkan
Asalkan terdeteksi secara dini klamidia sebenarnya mudah disembuhkan. Satu dosis azithromycin atau doxycycline yang diberikan sehari dua kali selama seminggu sudah dapat mengatasi jenis penyakit kelamin ini. Namun, yang perlu diperhatikan adalah adanya kerja sama dengan pasangan. Seseorang yang menderita penyakit kelamin klamidia tidak boleh melakukan hubungan seksual hingga dia dan pasangannya telah selesai menjalani pengobatan.

Jika tidak infeksi bisa menyerang kembali. Wanita yang telah menjalani pengobatan namun pasangannya tidak, sangat berisiko kembali menderita penyakit kelamin klamidia. Jika hal itu terjadi terus-menerus maka dapat menimbulkan komplikasi kesehatan reproduksi yang serius, termasuk kemandulan.

Tes ulang juga harus dilakukan tiga atau empat bulan setelah pengobatan untuk memastikan tidak adanya infeksi ulangan. Ini sangat penting terutama bagi mereka yang tidak mengetahui dengan pasti apakah pasangannya menjalani pengobatan atau tidak.

Namun cara yang paling mudah untuk menuntaskan pengobatan adalah dengan tidak berhubungan seksual atau setia pada pasangan yang telah jelas-jelas tidak terinfeksi. Kondom yang terbuat dari lateks jika digunakan secara terus-menerus dengan cara yang benar juga dapat mengurangi risiko penularan klamidia sebagai penyakit kelamin.

Sebagai pencegahan sangat dianjurkan bagi semua wanita berusia 25 tahun atau kurang yang telah aktif berhubungan seksual untuk melakukan tes screening setidaknya setahun sekali.Tes screening tahunan juga sangat dianjurkan bagi wanita di atas usia tersebut yang suka berganti pasangan dan wanita yang mengandung. (Nash-13)

sumber : www.aidsindonesia.or.id dan www.suaramerdeka.com

 

 
BookmarkAddict.com